Belajar Sabar Dari Para Nabi

Oleh : Ustadz Sujarwo

Oase179 Dilihat

Teras Malioboro News – Tulisan ini sebenarnya bagian kesembilan materi ngaji kehidupan tentang sabar. Insya Allah, pada paruh awal September, kami terbitkan dalam bentuk buku mini dengan judul besar : “Sabar Itu Mudah.” Dilengkapi sub judul : “Alif, Ba, Ta tentang Sabar.” Menyempurnakan buku saya yang telah lebih dahulu terbit : “Maka Bersabar Itu Indah.” Insya Allah, akan kami bagi gratis dalam bentuk pdf dan e-book.

Para Nabi dan para kekasih Allah adalah orang-orang pilihan dalam hal kesabaran. Mereka mampu menerima kejadian yang tidak enak dengan ikhlas. Menjalani musibah sedemikian tabah. Iman dan keyakinan terhadap Allah tidak pernah sedikitpun goyah.

Hebatnya, tidak kepada orang lain, mereka lemparkan segala salah. Tidak kepada makhluk, mereka berkeluh kesah. Muhasabah diri yang mereka bedah. Istighfar, doa, ikhtiar, dan kepada Allah sepenuhnya mereka berpasrah.

Dengarkan suara lirih Nabi Ya’kub dalam duka panjang kehilangan anak terkasihnya, Yusuf. “Hanya kepada Allah ku sampaikan segala kesusahan dan kesedihan ku.” (QS. 12 : 86)

Baca Juga : Mengikuti Hawa Nafsu Menuju Jalan Buntu

Ungkapan itu, mengingatkan kita pada Rasulullah sewaktu mengalami penolakan, penghinaan, dan kekerasan di Thoif. Dengan tubuh berselimut debu dan berhias bercak darah yang mengering, beliau berdoa.

“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kekurangan daya upayaku di hadapan manusia. Wahai Tuhan Yang Maha Rahim, Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah dan Tuhan pelindungku. Kepada siapa hendak Engkau serahkan nasibku? Kepada orang asingkah yang berwajah muram kepadaku? Atau kepada musuh yang akan menguasai diriku? Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku ridho.”

“Sebab, sungguh luas kenikmatan yang Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung kepada cahaya wajah-Mu yang menyinari kegelapan, dan karena itu yang membawa kebaikan di dunia dan akhirat, (aku berlindung) dari kemurkaan-Mu. Kepada Engkaulah aku adukan hal ku sehingga Engkau ridha kepadaku. Dan, tiada daya dan upaya melainkan dengan kehendak-Mu.”

Tentu kita tidak lupa dengan Nabi Yunus. Sewaktu di laut yang dingin dan gelap. Di dalam “perut ikan” yang tidak kalah gelap. Beliau mohon pengampunan atas kesalahan yang telah diperbuat. Meninggalkan kaumnya, sebelum izin Allah didapat.

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, “Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. 21 : 87)

Masih ingin menyalahkan orang lain atas kejadian yang tidak enak, yang kita alami? Masih ingin berkeluh kesah kepada sesama atas musibah yang terjadi? Masih bersandar dan bergantung kepada makhluk untuk memungkasi dan mengatasi masalah yang kita hadapi?***

Komentar