Berbagi dan Memberi Dalam Islam

Oase150 Dilihat

Teras Malioboro News – Dalam Islam, berbagi dan memberi merupakan pantulan rasa syukur atas rezeki yang telah Allah aliri dan anugerahi. Berbagi dan memberi, pancaran kesadaran bahwa terselip hak sesama dalam kelebihan yang kita nikmati. Karena kita mengamini dengan pasti, dalam setiap sukses yang kita raih, ada bantuan dan pertolongan orang lain yang menyertai serta mengiringi. Berbagi dan memberi, cermin diri yang melayani agar kita tetap rendah hati dan merunduk ke bumi.

Dengan demikian, dalam Islam, orang yang berbagi dan memberi, tidak mungkin dengan cara yang dapat menyakiti orang yang kita beri. Apalagi sampai melukai. Sebab, memberi dengan cara melukai dan menyakiti, bukti paling shohih dari sikap sombong dan tinggi hati. Menyelisihi isi dan arti dari berbagi dan memberi.

Allah mengingatkan, lebih baik memaafkan dan berkata baik, dari pada memberi dengan menyakiti. Allah menegaskan, pemberian dengan menyebut-nyebut dan menyakiti hati, tertolak dan tidak berarti. Seperti batu yang diatasnya ada segenggam debu. Hujan mengembalikan batu itu seperti dulu. Tanpa bekas sama sekali, kalau pernah ada debu disitu.

Lebih jauh lagi, Allah meminta agar kita memberi dan berbagi dengan sesuatu yang baik. Bukan sesuatu yang kita sendiri merasa enggan dan jijik. Bahkan Allah menggariskan, jika kebaikan yang sempurna, hanya bisa kita raih, dengan berbagi dan memberi, sebagian dari apa-apa yang kita sukai dan cintai.

“Kamu sekali-kali tidak akan pernah memperoleh kebajikan [yang sempurna], sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apapun yang kamu infakkan, tentang hal itu, sungguh Allah Maha mengetahui.” [QS. 3 : 92]

Salam teduh : Ustadz Sujarwo.***

Komentar