Bersyukur, Hulu dan Hilirnya Kebahagiaan

Oleh : Ustadz Sujarwo

Headline1, Oase481 Dilihat

Teras Malioboro News – Bersyukur, hulu dan hilirnya kebahagiaan. Mata air keteduhan dan kedamaian. Tumbuh subur, di atas ladang iman, kasih sayang, dan kebaikan.

“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Perbanyaklah bersyukur kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar.” [QS. 2 : 152]

“Duhai Rasulullah, mengapa engkau sholat, sedemikian rupa. Hingga kaki mu bengkak dan mengeras kulitnya. Padahal,  Allah telah ampuni dosa mu dan menjamin dirimu, menjadi penghuni surga?” Tanya Aisyah penuh cinta. Sementara, air mata mengambang di pelupuk mata.

Mendengar itu, Rasulullah menatap Aisyah dengan penuh kasih sayang. Sementara dari bibir beliau terucap jawaban yang lembut, indah, sekaligus menggetarkan.  “Tidak bolehkah aku menjadi hamba Allah yang bersyukur.”

Orang bersyukur menyadari bahwa segala apa yang ada pada dirinya, sepenuhnya berasal dari Allah. Dari mulai yang paling kecil sampai yang paling besar.

Baca Juga : Hidup Tenang dan Senang

Sehingga, ia memuji dan mensucikan Allah untuk hal-hal yang paling sederhana sampai yang paling luar biasa. Hatinya terus mengingat Allah. Sementara lidahnya mengucapkan hamdalah.

Tidak hanya di hati dan di lisan. Orang bersyukur, menunjukkan pula rasa syukurnya lewat sikap dan perbuatan. Bersikap rendah hati dan berselimut kasih sayang. Menabur dan menebar pelayanan dan kebaikan. Baik kepada sesama maupun semesta alam.

Oleh karena itu, belum bersyukur,  bila hati tidak mengingat Allah dan lisan enggan mengucap hamdalah. Belum bersyukur, bila tidak bersikap rendah hati dan tidak gandrung berbagi serta melayani.

Orang bersyukur menyadari sepenuhnya bahwa apapun yang ada pada dirinya adalah milik Allah yang Maha Rahman. Semua yang ada di dalam kehidupannya merupakan titipan dan pinjaman. Sehingga, ia merawat dan memanfaatkan setiap anugerah dari Allah, sesuai fungsi yang telah Allah gariskan. Sesuai kehendak Allah, yang telah mengamanahkan.

Begitu pula, karena menyadari bahwa semua titipan dan pinjaman semata. Orang yang bersyukur mengerti dengan pasti, apapun yang ada padanya, sewaktu-waktu bisa ditarik kembali oleh Allah yang Maha Kuasa. Kapan saja dan dengan sebab apapun juga.

Baca Juga : Bila Allah Sudah Cinta

Ketika itu terjadi dan dialami, orang bersyukur, tidak akan merasa bersedih secara berlebih. Tidak juga kecewa, marah,  dan berputus asa. Hatinya terus mengingat dan memuji Allah. Ia ridho terhadap takdir yang menyapa dan mengada.

Jadi, belum bersyukur, kalau masih merasa sedih berlebihan, bila kehilangan. Masih merasa kecewa kelewatan, bila mengalami pengurangan.

Orang bersyukur mengakui, ada pelajaran dan kebaikan yang Allah titipkan, bersama setiap keadaan dan kejadian yang berkunjung datang dalam kehidupan.

Dalam kekurangan dan kehilangan, Allah sisipkan pesan untuk sabar dan merunduk lebih rendah lagi. Supaya dapat meloncat lebih jauh dan tinggi.

Dalam kelebihan dan pertambahan, Allah selipkan pesan untuk memberi dan melayani. Supaya kebahagiaan lebih lama kita nikmati. Pun kita, bisa terus mendaki ke puncak tertinggi.

Rasulullah mengucapkan Alhamdulillah, bila kejadian yang ia senangi datang. Begitu pula, ucapan Alhamdulillah, ketika kejadian yang tidak beliau harapkan menyapa dalam kehidupan.

Orang yang bersyukur, tidak lelah mengolah dan menggali. Beragam manfaat lain yang masih tersembunyi, dari banyak nikmat yang telah Allah anugerahi. Orang bersyukur selalu berkreasi dan melakukan inovasi.

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” [QS. 14 : 7]***

Komentar