Bersyukur Mengundang Bahagia

Oleh : Ustadz Sujarwo

Oase491 Dilihat

Teras Malioboro News – “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. 14 : 7)

Ayat tersebut memuat janji Allah, adanya banyak pertumbuhan dan pertambahan nikmat, bila kita bersyukur. Ada banyak pertumbuhan dan pertambahan kebahagiaan di dalam rasa syukur sepanjang hidup yang kita kayuh.

Atas dasar itu, Al Kindi menuliskan dengan indah : “Ia yang selalu bersyukur. Musim seminya, tidak akan pernah bertemu dengan musim gugur.” Lalu, orang bijak menegaskan : “Jangan menunggu bahagia, baru bersyukur. Tapi, bersyukurlah, supaya kamu bahagia.”

Kita diingatkan ayat Al Quran yang memberi perumpamaan tentang kalimat yang baik. Seperti pohon yang akarnya menghujam dalam dan cabangnya menjulang menembus awan. Seijin Allah, ia berbuah sepanjang musim tanpa jeda.

Baca Juga : Bersyukur, Hulu dan Hilirnya Kebahagiaan

Begitu pulalah rasa syukur dengan buah kebahagiaan. Rasa syukur, seperti serbuk sari. Menumbuhkan kebahagiaan, kemanapun angin membawanya pergi.

Para ahli kemudian meneliti dan memperoleh bukti. Bersyukur menyehatkan psikis. Bersyukur membuat kita lebih optimis. Bersyukur menjadikan kita lebih rendah hati dan peduli. Bersyukur mengundang bahagia mendekati dan menghampiri.

Secara sederhana, syukur dapat kita sebut dengan ungkapan terimakasih kepada Allah atas nikmat yang Allah berikan. Kemudian, nikmat itu kita manfaatkan dan dayagunakan, sesuai dengan keinginan Allah. Semua itu kita lakukan, dalam rangka mendekat sekaligus menggapai ridho Allah.

Lihat Juga : Kanal YouTube Ustadz Sujarwo 

Paling kurang ada empat tahapan dalam bersyukur. Pertama, meyakini dan menyadari sepenuh hati bahwa nikmat yang kita peroleh, sepenuhnya pemberian Allah yang Maha Kasih. Kedua, lidah kita berzikir dengan memuji. Ketiga, kita memanfaatkan dan dayagunakan sesuai dengan apa yang Allah ingini serta kehendaki. Keempat, kita rawat sebaik mungkin dengan sepenuh hati.

Allah beri kita hidup sampai hari ini. Kita sadari dan yakini, semua itu anugerah dan seijin Allah dapat terjadi. Memuji Allah, lidah terus kita basahi. Kita manfaatkan hidup yang Allah beri dengan beribadah dan memakmurkan bumi. Terakhir, kita rawat diri kita sebaik mungkin. phisik maupun psikis. Lahir maupun batin.

Bagaimana tips atau jurus agar kita tetap dan mudah bersyukur di segala cuaca? Berkenaan dengan hal ini, Rasul memberi tips jitu : perbanyak¬† merunduk ke bawah. Kemudian, atas dasar itu, Imam Ghazali memberi saran agar kita selalu melihat ke bawah dan memandang sisi positif dari apa yang kita miliki dan alami. Orang Jawa menyederhanakan dalam ungkapan dan filsafat : “Untung…”

“Untung cuma motornya yang keserempet, coba kalau orangnya ikut jatuh. Untung hanya lecet-lecet. Tidak patah dan luka serius. Untung masih hidup. Meski patah dan luka serius. Kalau mati, kasihan anak dan istri.”

“Untung masih punya sepatu. Meski jelek dan sedikit robek. Dari pada tidak punya sama sekali. Untung, hanya tidak punya sepatu. Coba kalau tidak punya kaki.”

Jadi, bersyukur jangan berhenti. Apapun yang kita miliki dan alami hari ini, tetap kita syukuri. Sehingga, ia menjadi embun dan gerimis di hati. Menumbuhkan benih keteduhan dan kebahagiaan. Esok, saat kita kembali, kita pulang sebagai jiwa yang tenang dan penuh keridhoan.***

Komentar