Kopi Mukidi, Cita Rasa Khas Kopi  Lereng Gunung Sindoro

Headline1, Info UMKM393 Dilihat

Teras Malioboro News, Temanggung  — Selain Tembakau, Kabupaten Temanggung  dikenal pula dengan potensi tanaman kopi. Bahkan produk agrobisnis ini kini telah menjangkau pasar dunia.  Beberapa  pebisnis  kopi dari negara-negara  Cekoslovakia, India, Jepang, Thailand dan Australia pun pernah berguru ke Temanggung, tepatnya di Rumah Kopi Mukidi  yang ada di Dusun Jambon, Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu.

Menurut  Mukidi (49) ,  kejayaan tembakau Temanggung sempat terpukul saat awal reformasi, atau pertengahan 1998. Saat itu, para petani mengalami sejumlah masalah, harga tembakau yang dipermainkan oleh sejumlah orang, pertanian yang tidak ramah lingkungan serta kesejahteraan petani yang semakin menurun.

Hingga akhirnya Mukidi bersama dengan istrinya mulai memproduksi kopi olahan yang diberi nama Kopi Jawa. Dengan bahan baku kopi arabika asal Temannggung, usaha berkembang hingga beberapa merk  pun dihasilkannya. Kemudian pada 2013  dia membangun nama merek Kopi Mukidi yang merupakan gabungan dari berbagai macam kopi mulai dari arabika dan robusta.

Baca Juga : Mahasiswa UNY Olah Gedebog Pisang Jadi Keripik Lezat

Dengan membuka tiga buah  gerai penjualan dan menaruh kopi di sejumlah tempat oleh- oleh khas Temanggung,  akhirnya Kopi Mukidi semakin dikenal banyak orang dengan omzet mencapai Rp 50 juta setiap bulan. Sampai akhirnya Covid- 19 memporakporandakan usahanya, sehingga omzetnya menurun drastis. Namun demikian, Mukidi masih bisa bertahan, dan kini omzetnya pada kisaran Rp 11 juta perbulan. Bahkan belakangan cenderung naik lagi.

“Untuk bertahan dari serangan pandemi, saya berjualan melalui online baik di website kami, media sosial, ataupun kepada reseller kami yang dijual di lapak online. Kami juga jualan kopi yang siap minum di rumah ini,”   ujar Mukidi kepada wartawan  Rabu (24/5/2023)

Selanjutnya dia menjelaskan, dalam menjalankan bisnisnya ini dia memberikan ciri khas berupa  tatanan rumah ala desa sehingga pembeli bisa menikmati secangkir kopi dengan sajian aneka gorengan, seperti  pisang goreng chrispy, stik tahu, kentang goreng  maupun roti gulung.

Untuk aneka kopi yang dijual, ada tubruk, V60, Vietnam dripo, French Press, Mokapot, Espresso, Aero Press, , Latte Coffe, White Cofee, Brown Cofee, Kopi Susu, Chocolate Cofee, Coklat dan Fresh Milk. Harganya kisaran Rp 5000 hingga Rp 17.000,-/cangkir.

Baca Juga : Sup Samudra, Sensasi Hangat dan Segar Bahan Sea Food Berpadu Rempah

Sambil menikmati semilir angin pegunungan, dan rasa kopi khas produksi Mukidi, sejenak kita melupakan kesibukan sehari-hari.  Selain itu, di rumah kopi Mukidi ini, pengunjung juga bisa membeli kopi Mukidi  kemasan bubuk untuk oleh-oleh dalam lima pilihan. Yakni kopi Lanang, Arabika, Robusta, Arabusta dan Spesial Blend. Harganya dibandrol mulai dari Rp25 ribu – Rp 35 ribu per 100 gram. Juga dijual berbagai ukuran di atas 100 gram, dengan harga bervariasi.

Di dalam setiap kemasan itu, Mukidi selalu menyisipkan kalimat sebagai filosofi usahanya: Secangkir kopi ada cerita, banyak saudara dan penuh cinta.

Dibanding kopi lainnya, produk kopinya memilliki kelebihan dibanding produk kopi lainnya.  Yakni dihasilkan dari kopi yang ditanam dengan memperhatikan kaidah konversi lingkungan. Selain itu, produk kopi Mukidi kental, rasanya enak dan harum, serta tersedia dalam berbagai varian pilihan dan juga kemasan.

”  Untuk menjaga kualitas, kami memproduksi kopi Mukidi murni tanpa campuran, ” ujar Mukidi.

Baca Juga : Menunya Enak, Sasmaka Jadi Tempat Nongkrong Asyik

Mukidi mengakui, mengajak petani didaerahnya  untuk bertanam kopi, awalnya bukan  hal gampang. “Petani itu tidak butuh penjelasan yang ndakik-ndakik. Tapi contoh nyata, dan ada hasilnya jelas,” ujar Mukidi.

Lambat namun pasti, dipelopori oleh Mukidi, warga Desa Gandurejo khususnya, dan beberapa warga desa lainnya di sekitar Kecamatan Bulu, kini mulai banyak yang mengikuti  jejak Mukidi. Yakni bertanam kopi.

Mukidi,  sekarang dikenal sebagai pencetus kemandirian petani. Kemandirian Mukidi memulai bisnis kopi dimulai dengan budi daya kopi pada 2001 di lahan seluas 1 hektare di daerah Wonotirto, Kecamatan Bulu.

Awalnya  Mukidi menanam kopi Arabika secara  dengan cara tumpang sari dengan tanaman tembakau. Hal itu menimbulkan cita rasa lebih berat dan seperti aroma rempah.  Kini ia mulai mengembangkan sekolah kopinya dengan menawarkan paket berbagai kelas yang dikombinasikan dengan paket wisata. (*)

Komentar