Limbah Tambak Udang Di Pesisir Selatan Racuni Hewan Laut

Headline1, Jogja Raya353 Dilihat

Teras Malioboro News –  Puluhan tambak udang yang berada disepanjang pesisir Pantai Selatan ternyata berbahaya terhadap kelangsungan fauna laut. Berdasatkan temuan  Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM, limbah harian yang disalurkan dari kolam tambah udang tersebut membuat ribuan ikan laut mati. Bahkan,  mamalia laut yang terdampar di pantai seperti Lumba-Lumba, Paus, Penyu dan hiu diduga juga terpengaruh akibat limbah tambah  yang dialirkan langsung ke laut.

“ Kasus-kasus ekstrem baru kita temukan di dua tahun terakhir. Sebelum ada tambak, itu kasus per tahun bisa dihitung dengan jari. Setelah ada tambak meledak,” ungkap Dr. drh. Slamet Raharjo, MP, Dosen Fakultas Kedokteran Hewan UGM dalam Podcast Lestari (PoLes), Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM pada Kamis (30/11/2023).

Dijelaskan Slamet, Fenomena tersebut diperkirakan terjadi akibat menurunnya kualitas air laut yang tercemar limbah. Tambak di sepanjang pesisir pantai selatan tidak memberlakukan pengolahan kembali terhadap limbah yang dihasilkan, melainkan langsung dibuang ke laut.

Budi daya udang di satu sisi memang sangat dibutuhkan oleh perekonomian, utamanya untuk memenuhi asupan protein masyarakat. Lokasi pesisir pantai memang merupakan tempat yang paling bagus untuk budi daya udang. Terutama jika udang yang dibudidayakan adalah udang air laut. Namun tentunya, penempatan tambak udang di area pesisir pantai perlu mempertimbangkan segala dampaknya. Termasuk sistem pembuangan limbah yang aman bagi lingkungan.

Baca Juga : Prodi MM UGM Luncurkan Dua Buku

Tambak udang sendiri didefinisikan sebagai budi daya intensif, atau budi daya yang sepenuhnya dilakukan manusia. Aktivitas seperti olah lahan, pemberian pakan, hingga pergantian air menjadi bagian dari kegiatan tambak yang menghasilkan limbah. Setiap harinya, peternak akan memberikan pakan yang memiliki kandungan protein hingga 38%.

Imbasnya, hasil metabolisme udang yang diberi pakan ini menghasilkan senyawa nitrat, nitrit, amonia, karbon monoksida, dan lain-lain. Kandungan senyawa ini akan terakumulasi dan dalam kadar tertentu berpotensi mencemari lautan.

Pada satu titik tertentu, limbah sampai pada daerah habitat plankton, salah satu penghasil oksigen di lautan sekaligus makanan paus. Ketika paus memakan plankton tersebut, limbah pun ikut termakan dan meracuni paus.

Baca Juga : UGM Perguruan Tinggi Terbaik Bidang Ilmu Sosial

Slamet menyebutkan, salah satu langkah penting untuk mencegah kembali munculnya pembuangan limbah tidak bertanggung jawab, adalah merevisi kembali perizinan untuk membangun tambak di area pesisir.

Namun, karena  mayoritas pemilik tambak di pantai selatan Yogyakarta adalah korporasi besar,  petani tambak di area tersebut merupakan masyarakat lokal yang tidak tahu menahu soal perizinan. Begitupun dengan pemilik tambak yang bukan masyarakat lokal. Hal ini menambah rumit masalah, karena korporasi tidak memperhatikan dampak lingkungan tempat tambak dibangun. (*/SDs )

 

Komentar