Pro Aksi Kompetensi

Oleh : Dedik Dwi Prihatmoko

Pendidikan71 Dilihat

Teras Malioboro News – Belajar di sekolah tidak sekedar untuk memperoleh selembar ijazah yang bertuliskan kumpulan nilai. Karena hakikatnya hasil belajar terangkum dalam satu kata penuh makna yakni,  kompetensi.

Kompetensi berkorelasi dengan cara bersikap, berpengetahuan, dan berketerampilan seseorang. Sejauh mana siswa memiliki kompetensi, sejauh itu pula kualitas lembaga pendidikan dianggap bermutu dalam membentuk pengaruh baik terhadap keberlangsungan kehidupan selanjutnya.

Sekolah bukan lagi tempat mencetak siswa sebatas tahu, tetapi untuk berpikir, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan dari belenggu yang sedang mereka hadapi.

Perubahan alam dan zaman yang begitu cepat berotasi tak bisa terelakkan dan mutlak akan terjadi. Tapi manuver pendidikan nampaknya belum bisa mengimbangi. Salah-salah keberadaan modernisasi dari konstruksi alam dan zaman menyisakan problem tersendiri.

Paparan sosial media pada anak-anak, remaja, dewasa, hingga orang tua begitu jelas terasa. Menurut survey yang ada, sepertiga waktu dalam sehari, orang sudah masuk ke ranah konsumtif terhadapnya. Hingga terkesan waktu terasa singkat. Lupa akan khittahnya bahwa dunia nyata memanggil diri untuk hadir dalam segala kegiatan pro aksi dan kreasi. Melukis sejarah bukan hanya menikmati dan menjadi saksi sejarah.

Permasalahan zaman pada lini masa sudah menyentuh ke berbagai sektor, mulai dari; politik, ekonomi, pendidikan, hingga budaya masyarakat. Semua mendapat pengaruh positif maupun negatif. Dalam buku karya Sharon dan Ken Key berjudul Century Knowledge and skill in Educator Preparation menjelaskan manusia hidup membutuhkan kecakapan hidup. Kecakapan hidup ‘kompetensi’ yang dibangun Sharon meliputi; berpikir kritis, komunikatif, kolaboratif, dan kreatif.

Bagaimana mungkin orang yang hanya diberi ilmu teks tanpa membaurkan dengan konteks kehidupan dapat membuat anak berfikir kritis. Bagaimana mungkin orang yang hanya diberi ceramah tanpa ruang dan kesempatan untuk menyanggah dapat membuat anak komunikatif.

Bagaimana mungkin orang yang hanya diberi tugas-tugas mandiri tanpa pemberian proyek bersama dapat membuat anak mampu berkolaborasi. Bagaimana mungkin orang yang hanya diberi logika tertutup tanpa cakrawala terbuka dapat membuat anak kreatif. Semua tentu ada konsekuensi dari apa yang terjadi.

Keempat kompetensi itu secara fitrah keilmuan sudahlah cukup, namun perlu pelengkap etika dan moralitas agama untuk menjadikan generasi lebih bermartabat sempurna, untuk menampik gejolak intoleransi, krisis kepercayaan, dominasi politik, dan kesenjangan sosial di tingkat masyarakat setempat.

(Penulis adalah Alumni Mahasiswa Pasca UIN Sunan Kalijaga dan pengajar di SD Islam Al Azhar 31 Yogyakarta)***

Komentar