Rasa Memiliki dan Kesedihan

Headline1, Oase87 Dilihat

Teras Malioboro News – Rasa memiliki dan kemelekatan adalah sumber resah, gelisah, dan kesedihan. Karena rasa memiliki dan kemelekatan, pemacu dan pemantik  rasa kehilangan. Bahkan, andai rasa memiliki dan kemelekatan itu untuk hal-hal serta sesuatu yang belum nyata. Baru ada di angan dan di awang-awang.

Kesedihan tidak akan memeluk kita, paling jauh hanya bersimpati yang dalam, bila membaca berita : “Telah terjadi perampokan di depan sebuah bank. Akibatnya, gaji 100 lebih karyawan sebuah perusahaan hilang melayang.”

Lain halnya, kalau kitalah pemilik perusahaan yang kehilangan. Lain halnya, andai kita karyawan dari perusahan yang mengalami kejadian. Apalagi, kitalah orang yang mengalami langsung sebagai korban peristiwa perampokan.

Berbicara soal merasa kehilangan karena rasa memiliki dan kemelekatan, ada kisah menarik tentang 99 keping emas.

Seorang raja menjanjikan 100 keping emas sebagai balasan atas kesetiaan seorang pelayan. Pelayan yang bertahun-tahun menghamparkan pengabdian. Hidup sederhana, namun berpayung kebahagiaan.

Tentu saja, mendengar hal tersebut, hati sang pelayan mekar merekah. Coba bayangkan, 100 keping emas! Hampir-hampir ia pingsan, karena perasaan haru dan gembira.

Akan tetapi, hatinya yang mekar merekah, perlahan-lahan menjadi redup, kuncup dan layu. Janji, tinggal janji. Setahun telah berlalu, tapi belum juga ada tanda-tanda akan turun. Tidur tidak nyenyak. Makan tidak enak. Kerja tidak jejak. Dada selalu terasa sesak.

Untungnya, memasuki pertengahan tahun kedua, ada panggilan untuk menghadap pejabat. Sebuah kantong bermotif kembang, yang berisi 100 keping emas, kini sudah ada di tangan. Dengan wajah cerah, ia segera melenggang pulang.

Sayangnya, Kegembiraan yang membuncah, tidak berlangsung lama. Karena emas yang ia terima, setelah dihitung, ternyata hanya 99 keping saja.

Hatinya menyesal, mengapa tidak menghitungnya sewaktu menerima? Dirinya resah dan gelisah. Bertanya-tanya. Kemana satu keping tersisa? Hilang dikorupsi pejabat yang menyerahkan? Ataukah terjatuh di perjalanan? Mungkinkah, raja ingkar janji?

Mau bertanya, kuatir pejabat tidak berkenan. Bisa-bisa nyawa melayang. Tidak ditanya, ada selilit di hati dan pikiran. Bikin hidup dan hari-hari, jadi tidak lagi teduh dan tenang.

Oleh karena itu, Allah dan Rasulullah, meminta kepada kita agar tidak merasa memiliki dan mencintai sesuatu secara berlebihan. Karena sewaktu-waktu bisa berubah, berkurang, bahkan hilang.

“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu, sungguh Allah Maha mengetahui.” [QS. 3 : 92]

“Cintailah orang yang kamu cintai sekadarnya. Bisa jadi, orang yang sekarang kamu cintai, suatu hari nanti harus kamu benci. Dan bencilah orang yang kamu benci sekadarnya, bisa jadi di satu hari nanti dia menjadi orang yang harus kamu cintai.” [HR. At-Tirmidzi]

Pada bagian akhir tulisan ini. Ada dua pertanyaan yang pantas kita ajukan. Supaya semua menjadi jelas dan tuntas. Tidak hanya teori di atas kertas, yang tidak dapat dipraktekkan dalam realitas.

Pertama : “Bagaimana supaya kita tidak terjerat dalam rasa memiliki dan kemelakatan atas apapun yang Allah anugerahkan kepada kita?” Kedua,  “Bagaimana praktek dan latihannya dalam kehidupan?” Nantikan tulisan lanjutan di edisi mendatang.

Salam teduh : Ustadz Sujarwo.***

Komentar