12 Jenis Mamalia Ini Masih Lestari Di Hutan Merapi

Bertahan Ditengah Maraknya Eksplorasi

Headline1, Jogja Raya124 Dilihat

Teras Malioboro News ––  Sebagai salah satu hutan konservasi, Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) masih menjadi habitat alami sejumlah mamalia  satwa langka di Pulau Jawa. Meskipun beberapa diantaranya sudah  terancam keberadaannya dan nyaris punah.

Berdasarkan hasil pengamatan UGM sedikitnya 12 jenis mamalia masih bertahan dan hidup lestaris di Taman Nasional Gunung Merapi.  Namun, karena area sekitar TNGM dikelilingi oleh pemukiman padat penduduk,  maka eksistensi mamalia ini juga terancam dengan adanya fenomena alam seperti  Erupsi Merapi maupun  tanah longsor.

Selain itu  penambangan pasir dan perambahan hutan oleh manusia juga menjadi faktor ancaman lain terhadap eksistensi hewan-hewan asli yang hidup di kawasan tersebut.

Babi hutan ( Foto : pixabay.com)

Berdasarkan hasil penelitian mahasiswa program studi doktor Ilmu Kehutanan Fakultas Kehutanan UGM, Nurpana Sulaksono,   jenis-jenis mamalia  yang ditemukan di TNGM ukurannya bervariasi . Untuk hewan berukuran besar hingga sedang yang tinggal di area  TNGM diantaranya monyet, kijang, landak,  garangan, lutung, babi hutan, trenggiling, kucing hutan, lutung, biul, rase, dan tupai terbang.

“ Pengamatan ini  menggunakan puluhan kamera jebakan , diketahui ada 12 jenis mamalia,  10 diantaranya jenis mamalia darat. Yang paling banyak itu adalah monyet ekor panjang, kijang, landak dan luwak,” kata Nurpana Sulaksono dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor di Fakultas Kehutanan UGM, Senin (13/3/2023) seperti dikutip redaksi dari laman resmi  ugm.ac.id

Baca Juga : Merapi  Masih Erupsi ,  Kodim Sleman Siagakan  Pasukan

Dalam penelitian disertasinya yang berjudul Respon Mamalia Darat Ukuran Sedang-Besar pada Berbagai Tipe Gangguan di Lanskap Taman Nasional Gunung Merapi, Nurpana mengatakan mamalia dengan ukuran sedang dan besar seperti monyet dan lutung atau kijang cenderung menghindar dan menjauhi area yang dekat dengan gangguan baik pemukiman maupun penambangan.

“Satwa itu cenderung berada di area tutupan rapat dan menjauh dari area pemukiman dan penambangan serta suka pada lahan yang agak tinggi,” jelasnya.

Lutung Jawa ( pixabay.com )

Soal ketersediaan habitat populasi mamalia di taman nasional gunung Merapi sekarang ini, Nurpana menyebutkan habitat paling luas dimiliki oleh kucing hutan yang menempati area seluas 5.000 hektare baik di dalam maupun luar TNGM, diikuti luwak 4.700 hektare, dan kijang menempati area 3.000 hektare baik di luar maupun di dalam kawasan taman nasional.

Namun demikian, imbuhnya, kondisi habitat kijang saat ini terjadi fragmentasi akibat erupsi dan adanya aktivitas pemukiman penduduk. Lokasi habitat tersebut berada di utara dan selatan gunung Merapi.“Antara wilayah utara dan selatan terputus yang akan memberikan dampak pada pelestarian area yang seharusnya populasinya bisa terhubung,” paparnya.

Ia menjelaskan gangguan habitat yang paling tinggi terjadi pada habitat yang terdampak akibat gangguan aktivitas penambangan.

Habitat dengan tingkat gangguan tinggi cenderung direspon dengan kekayaan jenis dan keragaman jenis mamalia yang rendah.

Baca Juga : Nginep di Hotel Innside , Gratis Liburan  ke Kuala Lumpur & Bali. Mau ?

Pada habitat yang tidak terganggu justru cenderung memiliki kekayaan tinggi namun memiliki tingkat  keragaman mamalia paling rendah akibat adanya dominasi beberapa jenis satwa tertentu.

Dari hasil penelitian ini,  Nurpana menyampaikan rekomendasi untuk dilakukan  pengukuran kondisi mamalia secara aktif dan kontinyu untuk mengetahui dinamika dan perkembangan jumlah populasi dan habitatnya.

Selain itu, diperlukan pengaturan waktu aktivitas pengambilan rumput oleh masyarakat. “Pengaturan dilakukan untuk mencegah gangguan tidak melebihi ambang batas toleran yang dapat memberikan dampak langsung dan tidak langsung terhadap satwa liar khususnya mamalia,” ujarnya.

Namun yang tidak kalah lebih penting perlunya pengamanan kawasan untuk mencegah aksi perburuan, melakukan pengaturan dan penertiban terhadap aktivitas penggalian batu dan pasir untuk mencegah terjadinya fragmentasi habitat.

“Pegambilan material batu dan pasir yang tidak terkendali bisa menyebabkan terputusnya konektivitas antar habitat,” pungkasnya.

 

Komentar