Dekat Sesar Opak, Jembatan Sepanjang 1.900 Ini Penting untuk Penghubung Jawa Bagian Selatan

Headline1, Jogja Raya157 Dilihat

Teras Malioboro News–Jembatan Pandansimo sepanjang 1.900 meter yang menghubungkan Kapanewon Srandakan, Bantul di sisi timur, dan Kapanewon Galur, Kulonprogo di sisi barat mulai dibangun.

Sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional, jembatan Pandansimo akan menjadi sarana pendukung mobilitas, dan memperkuat konektivitas wilayah selatan DIY, serta memperkuat konektivitas Jawa bagian Selatan, yang membentang dari Banten hingga Jawa Timur.

Guna memulai proyek pembangunan jembatan Pandansimo, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X melakukan groundbreaking, Senin (12/12/2023) di titik awal pembangunan jembatan, Pandansimo, Srandakan, Bantul, didampingi oleh Direktur Jenderal Bina Marga Hedy Rahadian, Kepala BBPJN Jateng-DIY Rien Marlia, Bupati Bantul Abdul Halim Muslih, dan Sekda DIY Beny Suharsono.

Momentum groundbreaking bukan hanya seremoni, tetapi sebagai starting point terobosan ide-ide kreatif-inovatif, sekaligus menjadi simbol “Binanguning Marga-Pambukaning Praja”. Hal ini memiliki makna pembangunan jembatan Pandansimo menjadi jalan pembuka kesejahteraan, bagi masyarakat Bantul, dengan semangat Projotamansari. Juga bagi Kulon Progo dengan semangat Binangun-nya.

baca juga: BPH Migas dan PGN Tinjau Pembangunan Jaringan Gas Bumi di Sleman

“Saya optimis, hadirnya jembatan Pandansimo, tidak hanya menjadi modal mobilitas transportasi, tetapi juga menjadi konektor pengembangan sektor ekonomi, logistik, dan memacu pertumbuhan multi-sektor lainnya, di wilayah Bantul dan Kulonprogo,” kata Sri Sultan.

Nantinya, jembatan Pandansimo diharapkan dapat menjadi icon inovasi dan eksplorasi potensi  pariwisata Kawasan Pantai Selatan DIY. Juga menjadi bagian dari strategi, untuk meretas berbagai tantangan pembangunan, dan merintis jalan baru, dalam menciptakan perubahan dan nilai yang signifikan.

“Saya mengajak seluruh pihak untuk turut mengawal setiap tahapan pembangunan jembatan Pandansimo. Mari turut memastikan setiap tahapan pembangunan, harus dicermati secara seksama. Agar proses pembangunan dapat berjalan lancar, tepat waktu, dan menghasilkan kualitas pekerjaan sesuai standar safety dan quality yang telah ditentukan,” ujar Sri Sultan.

Gubernur DIY Sri Sultan HB X meninjau prose spembangunan Jembatan Pandansimo di Bantul. (istimewa)

Sri Sultan menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada seluruh pihak, khususnya kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat RI beserta seluruh jajarannya.  Dirinya berharap, Jembatan Pandansimo, dapat menjadi saksi bagi kemajuan dan kemakmuran bagi masyarakat. Sri Sultan berharap pembangunan jembatan Pandansimo, dapat pula melibatkan tenaga-tenaga produktif di Kabupaten Bantul dan Kabupaten Kulonprogo.

Sementara dalam laporannya,  Kepala BBPJN Jateng-DIY Rien Marlia mengatakan, proses penyiapan pembangunan jembatan Pandansimo sudah berlangsung sejak lama. Tahun 2013 hingga 2015, dilakukan pembebasan lahan oleh Pemda DIY, serta penyiapan dokumen Amdal. Sementara, review DED dilakukan pada tahun 2022.

baca juga: Limbah Tambak Udang Di Pesisir Selatan Racuni Hewan Laut

Pembangunan jembatan Pandansimo masuk pada paket kegiatan Inpres Jalan Daerah Tahap 1 yang merupakan bagian dari rangkaian jalur Trans Selatan Jawa. Pembangunan ini diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat dan pemerataan ekonomi di bagian Selatan Jawa. Jembatan Pandansimo akan memiliki panjang 1.900 meter, yang terdiri dari jalan pendekat sepanjang 625 meter, slab on pile sepanjang 690 dan jembatan utama dengan bentang 675 meter. Nilai kontrak sebesar Rp 814,8 miliar dan dilaksanakan oleh PT Adikarya Persero, PT Sumber Wijaya Sakti. Kerja Sama Operasi selama 408 hari kalender dengan Rencana Final Hand Over (PHO) di tanggal 31 Desember 2024.

Lokasi jembatan Pandansimo yang berada pada karakteristik tanah yang berpasir dan muka air tanah dangkal. Lokasi ini dekat dengan sumber gempa sesar opak dengan radius kurang dari 10 km, menyebabkan jembatan Pandansimo memiliki kerentanan terhadap potensi likuifaksi.

“Jembatan Pandansimo akan menggunakan teknologi LRB atau Lead Rubber Bearing pada struktur bawah jembatan yang fungsinya untuk meredam gempa. LRB ini mampu mengembalikan struktur yang ditopangnya pada posisi semula setelah gempa berakhir. Jembatan Pandansimo juga nantinya akan dipercantik dengan pemasangan ornamen yang mengusung kearifan budaya lokal,” kata Rien.

Jembatan Pandansimo tidak hanya menjadi penghubung antar wilayah tetapi juga menjadi icon baru kebanggaan masyarakat pesisir selatan DIY. Juga bisa menjadi wadah berkumpulnya masyarakat lintas sosial sehingga terjadi interaksi sosial yang intens. Lebih jauh lagi, dengan tersedianya ruang terbuka hijau dan pedestrian dapat membentuk budaya sehat bagi masyarakat dengan memberikan ruang kegiatan olahraga maupun kegiatan sosial lainnya.

baca juga: Dampak Gempa Bantul, Perjalanan 12 Kereta Terganggu

Rien mengajak seluruh stakeholder untuk berkolaborasi sehingga pembangunan jembatan Pandansimo dapat dilaksanakan secara profesional, tepat waktu, tepat mutu dan tepat biaya. Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi atau SMKK harus diterapkan dengan baik dan benar. Pun, dokumen pekerjaan yang paling beresiko harus diidentifikasi dan dimitigasi dengan benar sehingga diharapkan pada proses pembangunan jembatan Pandansimo tidak ada kecelakaan konstruksi.

“Dokumen SMKK terkait rencana mutu pelaksanaan konstruksi rencana kerja pemantauan dan pengelolaan lingkungan hidup dan rencana manajemen lalu lintas pekerjaan harus dibuat dengan benar. Sehingga selama kegiatan pembangunan jembatan Pandansimo dapat meminimalisir dampak negatif terhadap kondisi lingkungan dan sosial masyarakat,” tutup Rien. (suwarjono)

Komentar