Ikhlas dan Belajar Naik Sepeda

Payung Peneduh

Headline1, Oase163 Dilihat

Teras Malioboro News – Pada tulisan terdahulu, sudah kita bahas bahwa ikhlas itu adalah melakukan segala sesuatu semata-mata karena Allah. Semata-mata, karena mengharap Rahmat dan Ridho Allah.

Kita juga telah mengupas bahwa sewajarnya kita melakukan segala sesuatu karena Allah atau ikhlas. Justru lucu, aneh, dan tidak wajar bila berbuat sesuatu tersebab selain Allah. Sehingga ikhlas semestinya bisa kita jalani dan tidak sulit.

Merespon tulisan tersebut, beberapa jamaah dengan sedikit mengeluh memberi komentar, “Pak Ustadz, Ikhlas itu enak kita bicarakan, tapi susah dilakukan.” Sementara jamaah lain melempar tanya, “Pak Ustadz, saya sudah berlatih untuk ikhlas, tapi kok masih sering terjatuh dan gagal. Mengapa, ya?”

Ikhlas itu pantulan iman yang ada di dalam. Akan tetapi, ia juga bagian dari keterampilan. Karena keterampilan, ikhlas bisa kita pelajari, kita latih, dan kita biasakan. Sehingga menjelma menjadi karakter diri kita yang tidak terpisahkan.

Dari sisi sebagai sebuah ketrampilan, ikhlas tidak jauh berbeda seperti belajar “naik” sepeda. Saat kita masih anak-anak. Kita ingin bisa naik sepeda. Tapi rasanya susah dan berat. Karena kita belum tahu ilmunya. Apalagi, ada rasa takut terjatuh. Kita bisa terluka dan sepeda dapat saja rusak.

Tapi, karena keinginan yang kuat bermodal nekat. Ditambah bayangan manfaat dan kerennya, bila kita nanti mahir naik sepeda. Kita pun mulai memberanikan diri untuk belajar.

Saat mulai belajar, kita mengalami jatuh dan bangun. Pernah lecet dan terluka. Anehnya, kita tidak kapok dan menyerah. Hasilnya, perlahan-lahan, kita bisa naik sepeda. Kemudian, kita latih terus menerus setiap hari. Ujungnya, kita menjadi mahir.

Awalnya, kita hanya berani naik sepeda di sekitar rumah. Kemudian, mulai berani ke lingkungan pemukiman. Selanjutnya, ke area yang lebih jauh dengan resiko lebih tinggi. Ujungnya, hampir semua tempat dan medan, mampu kita lewati dan kuasai.

Hari ini, naik sepeda, bukan lagi hal yang sulit. Mudah, dah, dah, mudah. Namun, meskipun terasa mudah, tetap saja kita harus berhati-hati dan waspada. Sebab, sekali dua, boleh jadi kita terjatuh dan terluka. Entah kita yang menyenggol atau disenggol kendaraan lain di jalan.

Demikian pula dengan Ikhlas. Awalnya mungkin terasa sulit dan berat. Karena kita belum mengerti ilmu dan bagaimana cara melatihnya. Apalagi, kita juga belum tahu manfaat bagi kehidupan dan hadiah yang telah Allah janjikan serta siapkan.

Setelah kita memahami ilmunya dan tahu manfaat serta balasan yang menanti. Kita pun mulai berlatih. Awalnya pasti sulit, lupa dan gagal pasti terjadi berulang kali. Namun, bila kita terus berusaha dan berlatih. Perlahan tapi pasti, kita akan terampil untuk ikhlas dalam setiap tindakan dan kejadian yang kita alami.

Ujungnya, ikhlas menjadi kebiasaan dan bagian dari hidup yang kita arungi. Bila sampai pada tahap ini, ikhlas terasa mudah untuk dipraktekkan dan dijalani. Meskipun demikian, tetap saja, ada saatnya kita alpa dan terjatuh. Namun, kita akan cepat menyadari dan kembali ke jalan yang lurus.

Di ujung tulisan ini, tersisa tanya, “Bagaimana tips dan kiat-kiat khusus untuk melatih agar kita menjadi hamba Allah yang ikhlas?” Please, tunggu tulisan Payung Peneduh esok hari.

Salam teduh : Ustadz Sujarwo

Komentar