Yogyakarta Sukses Turunkan Volume Sampah Anorganik. Begini Kiatnya

Menurut Kepala DLH Kota Yogyakarta Sugeng Darmanto, sejak diberlakukan larangan membuang sampah anorganik terjadi penurunan volume sampah berkisar 15 ton/hari.

Jogja Raya106 Dilihat

Teras Malioboro News, Yogya — Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta mulai merasakan hasil adanya penurunan volume sampah anorganik yang dibawa ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan Bantul.

Penurunan volume sampah tersebut terkait dengan program Gerakan Zero Sampah yang disosialisasikan Pemkot Yogyakarta sejak tahun 2022 lalu. Gerakan ini diberlakukan awal Januari 2023.

Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta Sugeng Darmanto, sejak diberlakukan larangan membuang sampah anorganik kepada warga terjadi penurunan volume sampah berkisar 15 ton/hari.

Dikatakan Sugeng Darmanto, jumlah tersebut masih berdasarkan perhitungan secara keseluruhan volume sampah dari Kota Yogyakarta yang dibawa ke TPA Piyungan. Belum merinci pengurangan berdasarkan jenis sampah organik, anorganik dan residu.

“Sudah mulai ada pengurangan volume sampah. Ini menjadi awal yang baik,” kata Sugeng dikutip dari laman web Pemkot Yogya, Selasa (10/1/2023).

Meski sudah merasakan keberhasilan adanya penurunan sampah, pihak Pemkot Yogyakarta akan tetap menggencarkan sosialisasi dan ajakan Gerakan Zero Sampah Anorganik kepada masyarakat.

Sebelum gerakan zero sampah anorganik berlaku, volume sampah dari Kota Yogyakarta yang dibawa ke TPST Piyungan mencapai sekitar 260 ton/hari. Pihaknya mengakui volume sampah yang dibuang ke TPST Piyungan itu masih ada yang tercampur antara organik dan anorganik. Itu karena masyarakat masih diperbolehkan membuang sampah residu yaitu sampah anorganik yang membutuhkan penangan khusus untuk daur ulang dan tidak memiliki nilai jual. Misalnya sampah popok, pembalut dan tisu.

“Makanya proses sosialisasi dan edukasi ke masyarakat untuk memilah sampah terus seiring berjalan untuk membiasakan perubahan perilaku dalam mengelola sampah,” tambahnya.

Menurut Sub Koordinator Kelompok Substansi Penanganan Persampahan DLH Kota Yogyakarta Mareta Hexa Sevana volume sampah yang berkurang itu kebanyakan adalah jenis sampah anorganik. Hal tersebut karena sudah banyak sampah anorganik yang dikelola di wilayah melalui bank-bank sampah. Kegiatan panen sampah yakni penimbangan sampah yang terkumpul dari para nasabah juga semakin cepat.

“Dari laporan warga di kampung-kampung sekarang bank sampah lebih cepat panen. Biasanya butuh waktu berbulan-bulan bisa panen, sekarang seminggu bahkan kurang sudah bisa panen,” papar Mareta.

Dia menjelaskan indikator lain terhadap pengurangan sampah anorganik juga dirasakan pemulung atau perosok sampah di depo-depo. Dicontohkan biasanya para pemulung beraktivitas dari pagi sampai siang sudah penuh satu karung bagor. Tapi sekarang mereka harus menunggu sampai sore baru bisa memenuhi satu karung bagor.

Meskipun sudah ada penurunan volume sampah Pemkot Yogyakarta tetap menggencarkan sosialisasi gerakan zero sampah anorganik di masyarakat. Untuk edukasi kepada para pelaku usaha diampu oleh dinas terkait. Misalnya untuk hotel dan restoran diampu Dinas Pariwisata, toko, mal, waralaba dan pasar di bawah Dinas Perdagangan.

“Kebanyakan sosialisasi sekarang sudah sampai di level RW. Mulai minggu depan akan merambah ke level RT jadi lebih luas. Untuk sektor kegiatan dan usaha menjadi tanggung jawab masing-masing OPD pembina,” pungkasnya.(Chaidir)

Komentar