Bahagia Itu Dekat Dan Sederhana

Payung Peneduh

Teras Malioboro News – Tidak perlu dikejar-kejar. Bahagia itu dekat. Ia sama sekali tidak bersekat. Kita yang kurang mau mengingat dan jarang ingin melihat. Kita yang tidak ingin mendekat dan merapat.

Tidak perlu direkayasa. Bahagia itu sederhana. Ia apa adanya. Kita yang jarang mau merasa dan kurang ingin percaya. Kita yang salah mengira dan berburuk sangka.

Bahagia itu dekat dan sederhana. Di sebuah pagi, saya mengantar anak ke sekolah. Ia tampak lebih ceria dari biasa. Sore nanti, kami menyaksikan konser penyanyi idola. Hati saya ikut hangat, menyaksikan dia begitu bersemangat.

Setelah keluar dari rumah, saya bertemu dengan tetangga kiri dan kanan. Kami bertukar salam dan senyuman. Damai dan bahagia mengalir pelan, ke relung hati yang paling dalam.

Setelah melewati perempatan, kami bertemu dengan beberapa murid sekolah. Mereka berbincang dengan senyum sumringah. Padahal berjalan dipandu tongkat. Sebab, mata tidak dapat melihat. Haru dan bahagia, ikut merambat.

Di dekat selokan, kami berpapasan dengan suami istri yang cukup renta. Berboncengan dengan sepeda tua. Sembari saling melempar senyum penuh makna. Terselip tanya, tentang resep yang membuat mereka awet bahagia.

Setelah mengantar anak ke sekolah. Di jalan pulang, saya sempatkan membeli sarapan. Kebetulan, bertemu dengan seorang jamaah. Baru pulang dari Makkah.

Sehat dan cerah, terpantul jelas di wajah. Apalagi, ditambah kisah susah dan indahnya, sewaktu dia beribadah. Hati saya ikut basah.

Entah mengapa, saya jadi teringat kedua orang tua yang telah berpulang lebih dahulu. Mereka juga begitu. Bercerita pengalaman haji dengan haru, seru, dan cukup menggebu.

Rindupun datang bertamu. Banyak hal bahagia dan lucu, yang kami lewati di masa lalu. Kerap cerita itu, kami ulang-ulang, sewaktu keluarga besar bertemu. Tanpa pernah jemu.

“Ya Allah, ampuni dosa-dosa kami. Ampuni pula dosa kedua orang tua kami. Ya Allah, anugerahi kami dengan hidup yang berpayung bahagia, di dunia maupun di akhirat. Jauhkan kami dari siksa neraka.”

Salam teduh : Ustadz Sujarwo***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *