Merunduk dan Diri Merdeka

Oleh : Ustadz Sujarwo

Oase67 Dilihat

Teras Malioboro News – “Katakanlah (Muhammad), “Wahai Tuhan Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. 3 : 26)

Tokoh proklamator, Ir. Sukarno, pernah berada di puncak kekuasaan dan popularitas di negeri kita. Namun, bisa terjatuh dalam waktu yang singkat. Namanya redup dan hanya terdengar sayup. Wafat dalam sunyi dan sepi. Namun, tidak butuh terlalu lama setelah beliau berpulang, namanya kembali tinggi menjulang.

Bapak pembangunan, Suharto, pernah berkuasa puluhan tahun di negeri kita. Rasanya, semua berada dalam genggaman. Seolah-oleh tidak tergoyahkan. Gerakan reformasi, yang berjalan damai, membuyarkan dan menjatuhkan. Namanya menjadi bahan cibiran dan guyonan. Namun, dalam masa yang relatif singkat, namanya mulai kembali menggema. “Piye kabare le, enak jamanku tho?!”.

Kita bisa mengeja banyak nama tokoh besar di segala bidang, bahkan tokoh agama, yang merangkak dan menjulang naik. Yang lumpuh dan jatuh. Yang naik kemudian jatuh dan mampu kembali naik. Yang jatuh dan tidak pernah bangkit lagi.

Baca Juga : Jiwa Merdeka

Dalam skala pribadi, semua itu mengingatkan kita pada ungkapan bahwa diri kita mulia, karena Allah tutup aib dan dosa-dosa kita. Diri kita mulia, karena Allah cegah kejadian yang dapat menghinakan kita terjadi. Mudah bagi Allah, bila Dia menghendaki.

Pemicu dan pemacunya bisa apa saja dan siapa saja. Diri kita. Anak kita. Pasangan kita. Sejawat kita. Atasan kita. Bawahan kita. Orang yang iri dan benci pada kita. Bahkan, orang yang tidak kita kenal dan tidak terhubung secara langsung dengan kita.

Kejadian itu mengingatkan kita bahwa semuanya yang ada pada kita, sepenuhnya milik Allah. Semua berada di dalam kendali kekuasaan Allah. Semua yang terjadi, hanya seijin Allah. Kita tidak punya apa-apa dan tidak bisa apa-apa. Sepenuhnya bergantung kepada Allah.

Oleh karena itu, jangan pernah sombong dan tinggi hati. Merunduk dan merendahlah lebih dalam lagi. Hamparkan ikhlas, agar hati tetap sebening gelas. Hamparkan syukur, agar Allah tambahkan nikmat. Hamparkan sabar dan tawakal, agar hati kita terasa luas dan tidak dirasuki rasa cemas.

Itulah kemerdekaan sejati, yang bersemayam dalam diri. Dirgahayu RI yang ke-78. Semoga Allah payungi negeri ini dengan keberkahan dan kemakmuran sejati.***

Komentar