Ratmotirto, Batik Khas Kampung Ratmakan

Headline1, Info UMKM117 Dilihat

Teras Malioboro News — Warga masyarakat kampung Ratmakan, Kelurahan Ngupasan, Kemantren Gondomanan, Kota Yogyakarta tengah mengembangkan motif batik khas kampung tersebut. Motif batik ini diberi nama Ratmotirto.

Ketua Kampung Wisata Ratmakan, Nur Oryza Argo, menyampaikan ide gagasan tersebut lahir ketika warga mendapat pelatihan membatik, dan warga berinisiatif membuat batik dengan motif yang khas sebagai identitas Kampung Ratmakan.

“Inovasi ini juga sebagai bentuk komitmen warga dalam memantapkan diri menjadikan kampung Ratmakan sebagai kampung wisata,”  ujar Nur  kepada wartawan belum lama ini.

Baca Juga : Pemkot Yogyakarta Deklarasikan Gerakan Zero Sampah Anorganik

Ratmotirto sendiri berasal dari kata Ratmo yang merupakan nama tokoh sesepuh kampung Ratmakan yakni Tumenggung Ratmoko. Konon ia merupakan abdi dalem ‘telik sandi’ atau mata-mata utusan Keraton di masa penjajahan Belanda. Sedang Tirto diambil dari kondisi geografis kampung Ratmakan yang dilewati aliran sungai code.

“Secara desain motif batik ini diambil dari ornamen ‘soko’ atau tiang penyangga rumah dari bangunan Joglo Ratmakan dan motif aliran air yang kemudian dilukis dan dituangkan ke dalam suatu cetakan motif batik,” paparnya.

Nur menerangkan dalam proses pembuatannya, batik ini menggunakan metode cap, dimana motif batik dibuat dan dituangkan dalam suatu cetakan berbahan kayu.

Setelah proses pengecapan selesai maka langkah selanjutnya yakni pewarnaan kain batik menggunakan naptol berwarna merah dan biru tua.

Batik Ratmotirto ( Foto : Istimewa ) 

Baca  Juga : Vespa Batik Special Edition Banyak Diminati ,

“Ada dua jenis cetakan motif yakni cetakan ratmo dan cetakan tirto, yang secara teknis dicelupkan dalam cairan malam dan kemudian di cap ke selembar kain putih selebar dua meter, pembuatan corak motifnya dibuat secara kombinasi,” bebernya.

Setelah diberikan warna, langkah selanjutnya adalah proses pengeringan dengan cara dijemur. Tahap akhir dilakukan proses ‘nglorot’ atau proses melepas bahan malam yang masih menempel di kain dengan menggunakan soda abu.

Ia menambahkan untuk mendapatkan warna yang lebih bagus dan cerah, setelah proses pelepasan bahan malam dilakukan proses penjemuran untuk yang kedua kalinya.

Nur berharap dengan keseriusan warga ini selain dapat menguatkan citra Ratmakan sebagai kampung wisata budaya Jawa, juga dapat meningkatkan perekonomian warga. Selain itu, Batik ini bisa jadi sebuah cinderamata khas kampung Ratmakan. (*)

Komentar